Misericordia Child & Family Development Center

Misericordia Child & Family Development Center

Sunday, September 22, 2013

Mendidik Anak dengan Kekerasan : Bukan Solusi !

Anak adalah jendela masa depan bangsa. Masa depan bangsa yang cerah akan dapat terwujud apabila anak selaku generasi penerus mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara wajar dan mampu memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya. Kenyataannya di dalam masyarakat kita masih terdapat anak-anak yang mengalami hambatan untuk memaksimalkan segala potensi yang mereka miliki dan bahkan tidak jarang sebagian besar dari mereka bahkan mengalami kekerasan dari orang dewasa, pemanfaatan seksual serta berbagai masalah yang melanggar haknya sebagai manusia.

Beberapa media pernah memunculkan berita mengenai kekerasan yang seringkali dialami oleh anak-anak. Simak saja peristiwa baru-baru ini yang diangkat oleh sebuah stasiun televisi swasta mengenai seorang ibu yang tega menganiaya anaknya karena si anak tidak mau menurut dan juga kasus penganiayaan yang dilakukan oleh seorang guru agama di suatu Sekolah Dasar terhadap seorang murid lantaran murid tersebut tidak membawa buku yang diminta oleh sang guru. Juga peristiwa penganiayaan yang lagi-lagi dilakukan oleh oknum guru yang tidak bertanggung jawab terhadap seorang bocah yang menyebabkan si anak harus kehilangan nyawanya. Masalahnya sepele, lantaran si bocah tidak mengerjakan PR dan kelalaiannya harus dibayar dengan nyawanya. Sungguh tragis memang. Siapakah anak itu? Punya kekuatan sebesar apakah mereka hingga mereka “ dipantaskan “ untuk mendapat perlakuan sedemikian rupa.

Pendahuluan Konvensi Hak-hak anak ( KHA ) yang dicetuskan oleh PBB dalam Convention on The Right of Child ( CRC ) menyatakan bahwa anak-anak belum matang baik secara fisik maupun mental. Hal ini menyadarkan kita bahwa mereka perlu mendapatkan perhatian dan perlindungan. Anak-anak merupakan individu yang seharusnya dilindungi dari bahaya maupun ancaman. Dalam hubungannya dengan orang dewasa, anak selalu berada dalam posisi lemah. Ketergantungan anak pada orang dewasa pada umumnya berkesesuaian dengan pandangan tradisional tentang orang tua selaku pengasuh wajib dihormati sehingga menyebabkan pengasuh itu mempunyai otoritas terhadap anak dan hal ini mengkondisikan anak-anak menjadi korban kekerasan. Anak mungkin hanya diam ketika ia mengalami kekerasan tapi siapa yang tahu jika di dalam hatinya ia menangis.

Sebenarnya, seperti apa yang dimaksud dengan kekerasan pada anak tersebut? Kekerasan pada anak , disadari atau tidak, segala bentuk kekerasan pada anak bisa membawa dampak pada diri mereka baik secara fisik, psikologis, moral maupun sosial. Anak yang dididik dengan kekerasan secara fisik bisa saja mengalami luka di sekujur tubuhnya dan dampak secara psikologis menjadi anak yang tidak berani mengambil keputusan karena takut disalahkan terus, menjadi anak yang tidk percaya diri, mudah depresi, cemas dan kehilangan harga diri. Secara moral, cenderung berperilaku untuk melanggar undang-undang, berperilaku agresif, perilaku anti sosial, kasar dan kejam. Dalam hubungannya dengan lingkungan sosial, anak yang seringkali dididik dengan kekerasan, seringkali enggan mengambil peran dalam kegiatan bersosial di masyarakat, suka menyendiri bahkan bersikap anti sosial.

Berbagai dampak di atas tentunya tidak kita inginkan. Bagaimanapun juga anak adalah jendela masa depan bangsa. Tetapi pada prakteknya, mendidik anak bukanlah hal yang mudah apalagi bila anak tersebut tergolong anak yang sulit diatur sehingga kekerasan seakan menjadi suatu jawaban yang paling efektif untuk bisa mendisiplinkan anak. Bagaimanapun juga, kekerasan sebenarnya bukanlah jawaban yang tepat untuk mendisiplinkan anak. Jika orangtua terlanjur memukul anak, segeralah peluk anak itu dan terangkan kepadanya kenapa ia dipukul dan katakan apa yang anda harapkan kepadanya untuk ia patuhi. Selalu berikan kepada anak penjelasan terhadap segala hal yang anda lakukan agar anak tahu mengapa ia dimarahi dan tahu apa yang kemudian harus ia lakukan.

Mendidik anak dengan kekerasan sekali lagi bukan jawaban yang bisa membuat anak menjadi lebih baik. Karena segala bentuk kekerasan yang mereka alami akan membawa luka yang akan terbawa hingga mereka dewasa. Biarlah anak hidup dan bisa menikmati hak mereka yakni hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak mendapatkan perlindungan dan juga hak untuk mengutarakan pendapatnya.

Kita semua tentunya berharap kejadian guru yang memukul muridnya hingga si murid meninggal, atau kasus ibu yang menganiaya putranya hingga cacat tidak lagi terjadi. Anak adalah masa depan bangsa dan tugas kita bersama untuk mempersiapkan mereka menjadi generasi penerus bangsa yang matang dan berpotensi. Hentikanlah mendidik anak dengan kekerasan. Mulai dari sekarang.

Yuria Ekalitani, C.Ht, MT.OEI, M.Si, M.Psi (Cand)





No comments:

Post a Comment